Annisa Nurul Afifah namanya atau biasa di panggil dengan nama Ulfa seorang gadis yang
membuat saya hampir setiap menitnya selalu memikirkan segalah hal tentangnya. Wanita
ini adalah adik kelas saya pada saat saya masih duduk di bangku smk, entah
kenapa sejak awal pertama melihatnya, hati saya langsung menyukainya,
sampai-sampai terbawa mimpi 3 malam berturut-turut, memang kedengarannya terasa
konyol tapi itulah faktanya..”
Wanita ini pulalah yang membuat saya merasa semangat
ketika menjalani aktivitas-aktivitas di sekolah maupun di organisasi, seperti
di artikel saya sebelumnya yang berjudul “Organisasi Keduaku “Ikatan Pelajar
Muhammadiyah (IPM)” di situ saya menjelaskan tentang bagaimana saya bisa masuk
di organisasi itu dari niat yang salah menjadi benar, wanita yang saya maksudkan
di artikel itu adalah wanita ini. Wanita yang membuat saya merasa selalu ingin
dekat dan selalu ingin membuatnya tersenyum bahagia, dan inilah yang kita sebut
sebagai perasaan cinta.
Ketika saya belum memahami betul tentang makna cinta
dalam syariat islam, saya pernah menembak untuk pertamakalinya wanita itu, lalu dia
menjawab di dalam kamus kehidupan saya tidak ada yang namanya pacaran. Setelah
saya mengatakan perasaan saya yang sebenarnya, saya merasa legah, meskipun sedikit
sakit hati, karena jawaban itu. Lambat laung meskipun sedikit sakit hati, saya
tetap menjaga komunikasi dengan dia, yang saya sukai dari wanita ini salah
satunya ialah ketika saya sudah mengutarakan perasaan saya, hari-hari saya
dengan wanita ini tetap berjalan normal seperti biasanya, dia sama sekali tidak
membenci, atau menjauhi saya ketika saya ingin berkomunikasi dengan dia. Sebab
menurut hasil pengamatan saya di luaran sana, kebanyakan wanita ketika ada
seorang pria yang telah menyatakan perasaannya, lalu wanita tersebut menolak
maka hari-hari kedepannya wanita itu akan terus menghindar.
Memang hati saya sedikit sakit, namun tidak lamah kemudian,
saya kembali menembaknya untuk kedua kalinya, sebab mungkin pada saat itu
perasaan saya membuat pikiran saya yang jernih menjadi buram, lalu ketika kita
mengaku cinta pada seseorang maka kita akan selalu berusaha untuk
mendapatkannya, meskipun sebelumnya sudah pernah ditolak, dan menurut pendapat
saya jika di tolak sekali lantas menyerah begitu saja, maka itu bukan
betul-betul cinta namanya.
Jawaban yang saya terimah untuk kedua kalinya dari
dia yaitu yang pada intinya, dia berkata tidak menerima saya dan tidak berarti pula
dia menolak saya..” jawaban semacam ini intinya saya di gantung olehnya, hehehe,
sangat menyesakkan hati bukan..”
Ok, setelah mendengar jawaban itu, saya merasa
dilema untuk selalu berbuat hal yang lebih kepada dia, namun hari-hari tetap
berjalan normal seperti biasanya.
Setelah semua itu terjadi barulah saya mengenal di
organisasi saya yang namanya cinta yang sesuai syariat islam dan pacaran itu
sebenarnya bagaimana yang memang pada intinya tidak pernah ada di dalam islam,
sebab segalah aktivitas dari pada pacaran hanyalah maksiat belakah. Dari situ
saya berpikir bahwa ketika saya memang benar-benar mengaku cinta terhadap
wanita ini lantas saya mengajaknya pacaran, maka cinta saya adalah cinta palsu,
sebab kenapa ketika saya berpacaran misalnya dengan wanita ini, maka otomatis
saya mengajak wanita ini mengumpulkan dosa bersama-sama, mengajak wanita ini menuju
keneraka bersama-sama, apakah ini yang di namakan cinta??? Cinta yang
sebenarnya itu bermakna suci, pasti akan selalu membawa kita kepada hal yang
baik-baik, bukan malah menjerumuskan kita kepada keburukan. Maka dari sini
pulahlah saya berhenti untuk mengejar wanita ini, karena saya memang benar-benar
merasa cinta dan sayang kepada wanita ini, maka saya harus mengindar dari
dia, karena saya tidak ingin membawa dia
kepada keburukan. Meskipun pada awalnya terasa sangat sulit, namun lama kelamaan, saya sudah terbiasa
untuk hal itu. Meskipun saya menghindar secara langsung namun saya masi terkadang mengirimkan pesan
sms kepada dia, yang berisikan nasehat-nasehat ataupun beberepa
motivasi-motivasi yang membangun untuk kepribadiannya..”
Namun saat ini di tahun 2015, saya sudah merasa
sangat kecewa dengan sikap dia, sebab saat ini dia sudah berpacaran dengan seorang
pria yang memiliki nama dengan inisial W, karena terbawa pergaulan di lingkungan sekolahnya. saya kecewa karena merasa semua nasehat
dan motivasi yang saya berikan untuk dia untuk tidak berpacaran sia-sia belaka
dan tidak berguna. Sekarang ini saya sudah bertekat untuk membenci
kepribadiannya insya Allah semata karena Allah. Semoga dia dapat sadar
secepatnya dan berubah menjadi muslimah yang sesungguhnya sehingga dapat menjaga
kepribadiannya saat ini demi suaminya kelak entah siapa. Amiin..”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar