Mungkin kalimat itulah yang menggambarkan hidup dan
perasaan saya sekarang ini. Entah harus memulainya dari mana, saya berfikir
mungkin sekarang inilah titik terendah dalam hidup saya, setidaknya itulah yang
saya rasakan saat ini.
Saya berfikir ini bukanlah cobaan dari Allah untuk
saya melainkan ini semua adalah suatu akibat yang di sebabkan oleh keputusan
atau tindakan yang telah saya pilih sebelumnya. Saat ini saya memiliki puluhan
juta rupiah utang di bank, dan saat ini pulah motor yang baru saya cicil ingin
di tarik sebentar lagi di sebabkan karena saya sudah tidak mampu lagi untuk
membayarnya.
Di tambah lagi rencana demi rencana untuk membangun
usaha, sama sekali tidak ada yang terwujud di karenakan tidak adanya modal,
saya 100% paham bahwa dalam membuat atau membangun suatu usaha, Modal adalah masalah
Nomor 2, setelah Masalah nomor 1 yaitu Keberanian untuk memulai atau mencoba
tanpa takut akan resiko. Untuk masalah keberanian saya telah miliki, untuk
masalah yang ke dua Saya berencana untuk mengumpulkan modal terlebih dahulu
dengan cara bekerja untuk sementara waktu, sebab saya tidak ingin memulai usaha
saya dari hasil uang utangan dari bank apa lagi utang yang berbunga (Riba).
Namun masalahnya saya selalu merasa setegah –
setengah untuk menjadi kariawan, sebab ada yang mengganjal rasanya yaitu saya
sangat tidak suka di atur – atur oleh orang lain dan saya tidak ingin hidup di
bawah jari telunjuk orang lain serta tidak ingin terikat dengan kerjaan, di
buktikan pada pengalaman – pengalaman saya dalam menjadi kariawan sebelumnya
tidak dapat bertahan lama, paling lama hanya dua bulan. Mungkin itu pulah yang
membuat saya saat ini sulit untuk mendapat pekerjaan sebab saya setengah –
setengah dalam mencarinya.
Saya 100% menyadari masalah yang saat ini saya
hadapi masi belum ada apa – apanya di banding orang lain di luar sana yang
mungkin lebih parah dari kondisi yang saya hadapi saat ini.
Baru – baru ini pulah saya merasa sangat aneh,
mungkin terlalu mengingat masa lalu, jadinya terpikirkan kembali, seorang
wanita yang saya sukai (Annisa Nurul Afifah). Namun saya tidak ingin terbawa
untuk masalah itu, dengan berpikir (Saya siapanya dia? Untuk apa saya
memikirkan dia? Dia juga sama sekali tidak menyukai saya, dan saya mungkin
tidak akan pernah menjadi siapa – siapanya dia), dengan begitu saya tidak akan
berharap lagi terhadap wanita ini, meskipun terkadang ketika saya chat sama
dia, hati kecil saya selalu menginginkannya, namun tidak dengan jalan pacaran,
melainkan dengan jalan pernikahan.
Namun saya merasa itupun tidak akan mungkin
terjadi sebab dia sama sekali tidak menyukai saya #Lebay, setidaknya itu yang
saya rasakan…”
Sometimes I cry when I’m thinking about her, but I
should forget every single memory that I have about her. Mungkin ini memang
bisa di katakan terlalu Lebay, namun saya menyadari semua orang pasti pernah
merasakan ketika telah menyukai seseorang, dan yang tahu masing – masing adalah
pribadi mereka sendiri, jadi tentunya yang dewasa pasti akan memahami.
Berharap Allah meluruskan kembali hidup saya yang
kacau ini dan mengabulkan doa – doa yang ada dalam hati kecil saya. Amiin..”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar