Sudah setahun semenjak terakhir kali aku menulis di blog ini, ada begitu banyak moment yang aku lewatkan, dan kalau aku harus coba mengingat semua dari awal, untuk menulisnya, ntah akan menjadi berapa lembar halaman.
Lama berfikir untuk kembali
menulis, dan setelah mengumpulkan niat, akhirnya aku putuskan untuk menulis lagi,
yang di mana memang ada sebuah moment yang belum lama ini terjadi, dan aku rasa
ini cukup penting untuk aku abadikan melalui tulisan.
Seperti yang mungkin
kalian ketahui tentangku, buat kalian yang merasa kenal aku. Aku itu termasuk
salah satu orang yang cukup telat dalam melanjutkan kuliah, yang di mana jika
normal, harusnya aku juga sudah lulus di tahun tahun lalu. Namun karena
beberapa faktor seperti yang pernah aku jelaskan lewat tulisan yang sebelumnya,
so sampai sekarang aku pada saat menulis ini, itu masi sementara sedang berada
di bangku perkuliahan.
Waktu terasa berlalu cukup cepat, tak terasa sekarang aku sudah berada di semester 7 tepatnya di kampus Universitas Muslim Maros, dan minggu kemarin aku sudah mulai memasuki tahap PPL atau kalau istilah yang di gunakan oleh kampusku itu KEMAL (Kemahiran Mengajar Aplikasi Lapangan), intinya ini semacam praktik mengajar secara langsung di lapangan, karena jurusanku adalah Pendidikan Bahasa Inggris, so sudah sewajarnya jika harus melewati tahap ini.
Aku dan enam orang
temanku yang lain itu mendapat tugas di SMA Negeri 08 Mandai Maros, tepat pada
hari sabtu (16 Oktober 2021), kami di terima secara resmi oleh pihak sekolah
dari SMA Negeri 08 Mandai Maros, yang dalam hal ini Bapak Satria selaku kepala
sekolah yang menjabat pada waktu itu.
Total prodi yang ikut bertugas PPL di sekolah itu ada 5, yakni Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Fisika, Biologi, dan Matematika. Yang detilnya itu 2 orang dari Bahasa inggris yakni aku pribadi Ardiansyah dan Sry Kamaria, terus ada 2 orang dari Bahasa Indonesia yakni Muh. Nurhidayat dan Syahriani Syamsuddin, terus ada satu orang dari Fisika yakni Hesti Amalia, lanjut ada satu orang dari Biologi yakni Rismawati, dan yang terakhir ada satu orang dari Matematika yakni Sarmila.
So di sini ada total 2 orang
laki laki yang salah satunya aku pribadi dan ada 5 orang Perempuan. Yang sebelumnya
aku cukup kenal dari mereka itu ada 2 orang yang pertama Nur. Hidayat dari Pend
Bahasa Indonesia dan Sry Kamaria yang di mana ini memang sudah satu kelas denganku
dari awal kuliah. 4 orang perempuan sisanya itu aku baru mulai mengenal mereka pada
saat PPL ini di mulai, dan aku cukup merasa senang bisa kenalan dengan mereka,
yang dimana orangnya seru seru, cepat akrab dan mudah bergaul.
Di tulisan ini ada cukup
banyak foto – foto mereka, soalnya salah satu kebiasaan yang sering mereka
lakukan pada saat bersama, khususnya yang perempuan adalah kebiasaan yang pada
umumnya para perempuan sering lakukan , yakni Selfie.
Ada sedikit cerita yang
cukup tidak bisa aku lupakan di hari penerimaan tersebut, sebab temanku telah
mempersiapkan segala hal yang di butuhkan untuk menghadapi acara penerimaan
tersebut, yang tadinya kami pikir acara penerimaannya akan di lakukan secara
terstruktur layaknya acara penerimaan yang di hadapi oleh teman teman kami di
sekolah lain, seperti pakai MC, nyanyi Indonesia Raya, baca doa, sambutan
sambutan, ada snack kue dan minuman untuk pembicara dan seterusnya.
Namun yang terjadi adalah
pas hari h apa yang kami espektasikan tidak terjadi seperti itu, malah yang
terjadi adalah kami dan dosen pembimbing kami, hanya di suruh masuk ke ruangan kepala
sekolah, lalu kepala sekolah langsung memberikan kami arahan, setelah itu di
lanjut sepata kata dari dosen pembimbing kami, dan acara penerimaan selesai
begitu saja, simple, cepat, sederhana dan tidak kaku dalam artian tidak perlu
pakai MC segalah.
Setelah acara penerimaan
tersebut kami di minta untuk mencari guru pamong kami masing – masing, setelah usai
bertemu, terjadilah moment yang cukup bisa di katakan sedikit menyebalkan sih, untuk
aku pribadi bersama salah seorang teman yakni Sry Kamaria, yang di mana
kondisinya waktu itu guru pamong Sry Kamaria menyuruhnya untuk ke perpustakaan,
lalu temanku yang satu ini memintaku untuk menemaninya ke perpustakaan
tersebut, sesampai di sana, di dalam ruangan ada seorang guru yang lagi
mengajar secara online, dan satu lagi ada Nur Hidayat yang lagi menunggu guru
tersebut. Aku dan Sry Kamaria langsung masuk begitu saja keruang perpustakaan dengan tidak berisik, dan langsung mencari buku yang di perintahkan.
Tidak lama setelah
mencari buku, pada saat guru tersebut telah selesai juga mengajar, beliau langsung
menegur kami dengan pikiran seolah olah kami tidak memiliki etika, sebab tidak meminta
isin terlebih dahulu, sebelum mencari buku, pada hal posisinya kami terburu
buru, di tambah kami tidak ingin mengganggu beliau yang sedang mengajar, di
sisi lain perpustakaan – perpustakaan pada umumnya yang kami ketahui dan pernah
masuki, itu kalau masuk yah masuk saja, tidak perlu ada embel embel minta isin
segalah, yang pentingkan kami tidak berisik, itu pikir kami waktu itu, namun
guru tersebut tetap bersih kekeh mengatakan kalau kami tidak beretika, pada hal
maksud kami tidaklah seperti itu.
Kondisi awalnya juga kami
tidak berpikir kalau beliau memang adalah petugas di perpustakaan tersebut,
soalnya beliau mengajar, dan setau kami kalau yang jaga di perpustakaan semacam
itu, bukanlah seserorang yang berstatus guru, namun kondisi di tempat itu
berbeda, Cukup menyebalkan dan tidak nyaman sih untuk aku pribadi di hari
pertama setelah penerimaan di tempat itu, Namun dari pada urusan tambah panjang
yah kami minta maaf kepada guru tersebut.
Mungkin itu
adalah sedikit cerita nyata yang bisa aku bagi pada tulisan kali ini based on
kehidupan realku. Thankyou untuk kamu yang sudah baca tulisan ini sampai
selesai..!!! kedepannya aku bakalan tetap coba menulis hal hal yang aku rasa cukup
penting untuk aku abadikan lewat tulisan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar